Makalah Hadits Marfu’
Disusun Oleh :
Fitrah nurmansyah 13110273
DAFTAR ISI
Cover 1
Daftar Isi 2
BAB I Pendahuluan 3
BAB II Pembahasan 4
A. Pengertian 4
B. Macam-Macam Hadits Marfu’ 4
C. Hadits yang Dianggap Marfu’ 7
D. Kehujjahan Hadits Marfu’ 7
BAB III Penutup 8
Daftar
Pustaka 10
BAB I
PENDAHULUAN
Seperti yang kita ketahui, hadits adalah segala
sesuatu yang disandarkan kepada nabi muhammad saw baik dari perkatan,
perbuatan, dan ketetapannya. Hadits diklasifikasikan menurut berapa segi,
seperti sanad, matan, dan diterima atau ditolaknya suatu hadits.
Ditinjau dari segi kepada siapa berita itu
disandarkan, apakah disandarkan kepada nabi saw, sahabat, ataukah disandarkan
kepada yang lainnya, maka hadits itu dapat di bagi menjadi :
1. Hadits marfu’.
2.
Hadits mauquf.
3. Hadis maqthu’.
dan makalah ini akan berusaha mengulas tentang hadits marfu’
mulai dari pengertian dan macam – macamnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
Al-marfu’ menurut bahasa : isim maf’ul dari kata rofa’a
(mengangkat), dan ia sendiri berarti “yang diangkat”. Dinamakan demikian kerena
didasarkan kepada yang memiliki kedudukan tinggi, yaitu Rosulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam.
Hadis marfu’
menurut istilah adalah perkataan, perbuatan, ketetapan, atau sifat yang
disandarkan kepada Nabi saw., baik dengan ungkapan, yang jelas dari nabi atau
samar, tetapi ketentuan hukumnya dari nabi, baik yang menyandarkannya itu
sahabatatau bukan, baik sanadnya bersambung atau terputus. Definisi ini memungkinkan
Hadits Muttashil, Mursal, Maunqathi’, Ma’dlal, dan Muallaq menjadi Marfu’.
Sedang Hadits Mauquf dan Hadits Maqthu’, tak dapat menjadi Marfu’ bila tak ada
qarinah yang memarfu’kannya.
Dengan demikian, dapat
diambil ketetapan, bahwa tiap-tiap Hadits Marfu’ tidak selamanya bernilai
Shahih atau Hasan, tetapi setiap Hadits Shahih atau Hasan, tentu Marfu’ atau
dihukumkan Marfu’.
B.
MACAM-MACAM HADITS MARFU’
1. Di-marfu’-kan secara tegas (sharih)
Hadist yang di-marfu’-kan
kepada Nabi Muhammad saw dengan sharih adalah
hadis yang tegas-tegas di katakan oleh seorang sahabat bahwa hadist tersebut di
dengar atau di lihat dan di setujui dari Rasulullah saw.,
a.
Marfu’ Qauly
Ialah apa yang
disandarkan oleh sahabat kepada Nabi tentang sabdanya, bukan perbuatannya atau
iqrarnya, yang dikatakan dengan tegas bahwa nabi bersabda. Seperti pemberitaan
sahabat yang menggunakan lapazh qauliyah :
سمعت رسول
الله صلى الله عليه وسلم يقول …… كذا
“Aku mendengar Rasulullah saw
bersabda ……… begini”
Contoh :
عن ابن عمر رضى الله عنه قال: إنّ رسول الله صلى الله
عليه وسلّم قال: صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذّ بسبع و عشرين درجة ( رواه
البخاري و مسلم)
" Warta dari
Ibn Umar ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: Shalat jama'ah itu lebih
afdhal dua puluh tujuh lantai dari pada shalat sendirian . " (HR
Bukhari dan Muslim).
b.
Marfu’ Fi’li
Haqiqi
Adalah apabila
pemberitaan sahabat itu dengan tegas menjelaskan perbuatan Rasulullah saw.
Contohnya :
عن عائشة رضى
الله عنها انّ رسولالله صلّى الله عليه وسلّم كان يدعوا فى الصلاة, ويقول:
(اللّهمّ إنّى أعوذبك من المأثم و المغرم) (رواه
البخارى)
“Warta dari
‘Aisyah r.a. bahwa rasulullah saw mendo’a di waktu sembahyang, ujarnya: Ya
Tuhan, aku berlindung kepada Mu dari dosa dan hutang” (HR Bukhari).
c.
Marfu’ Taqriri
Haqiqi
Adalah tindakan
sahabat di hadapan Rasulullah saw. dengan tiada memperoleh reaksi, baik itu
reaksi positif atau negatif dari beliau saw. Contoh :
كنّا نصلّ
ركعتين بعد غروب الشمس و كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يرانا ولم يأمرنا ولم
ينهنا
“Konon kami bersembahyang
dua rakaat setelah matahari tenggelam, Rasulullah saw mengetahui perbuatan
kami, namun beliau tidak memerintahkan dan tidak pula mencegah.”
2.
Marfû’ ghairu sharih (marfu' Hukmy)
Maksudnya, hadist
sersebut seolah-olah lahirnya dikatakan oleh seorang sahabat )mawquf lafalnya) tetapi hakikatnya di sandarkan kepada
rasullalah SAW.
a.
Marfu Qauly
Hukmi
Ialah hadits marfu yang tidak tegas penyandaran
sahabat terhadap sabda Nabi, melainkan dengan perantaran qarinah yang lain,
bahwa apa yang disandarkan sahabat itu berasal dari sabda nabi. Seperti
pemberitaan sahabat yang menggunakan kalimat :
أمرنا بكذا …….
نهينا عن كذا
“Aku
diperintah begini…., aku dicegah begitu……”
Contoh :
أمر بلال ان ينتفع الأذن
و يوتر الإقامة ( متفق عليه )
“Bilal r.a. diperintah
menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah.” (HR Muttafaqun ‘Alaih).
b.
Marfu Fi’li
Hukmi
Ialah perbuatan sahabat yang
dilakukan dihadapan Rasulullah atau diwaktu Rasulullah masih hidup. Apabila
perbuatan sahabat itu tidak disertai penjelasan atau tidak dijumpai suatu
qarinah yang menunjukkan perbuatan itu dilaksanakan di zaman Rasulullah, bukan
dihukumkan hadits marfu melainkan dihukumkan hadits mauquf. Sebab mungkin
adanya persangkaan yang kuat, bahwa tindakan sahabat tersebut diluar
pengetahuan Rasulullah saw.
Contohnya :
قال جابر:
كنّا نأكل لحوم الخيل على عهدى رسول الله (رواه النسائى)
“Jabir r.a. berkata : Konon kami makan daging Kuda
diwaktu Rasulullah saw masih hidup” (HR Nasai).
c.
Marfu
Taqririyah Hukmy
Ialah apabila pemberitaan sahabat
diikuti dengan kalimat-kalimat sunnatu Abi Qasim, Sunnatu Nabiyyina atau
minas Sunnati.
Contohnya, perkataan Amru Ibnu ‘Ash r.a kepada Ummul
Walad:
لا تلبسوا علين سنّة نبيّنا (رواه ابو داود)
“Jangan kau campur-adukkan pada kami sunnah
nabi kami.” (HR. Abu Dawud)
Perkataan di atas tidak lain adalah
sunnah Nabi Muhammad saw, akan tetapi kalau yang memberitakan dengan kalimat minas
sunnati dan yang sejenis dengan itu seorang tabi’in, maka hadits yang demikian
itu bukan disebut hadits marfu, tetapi disebut hadits mauquf.
C. Hadits yang Dianggap Marfu
Selain yang
tersebut di atas, terdapat beberapa ketentuan untuk menggolongkan hadits kepada
hadits marfu. Antara lain:
1. Apabila dalam memberitakan itu, diikuti dengan kata-kata seperti: Yarfa’ahu,
Marfu’an, Riwayatan, Yarwihi, Yannihi, Ya’tsuruhu/yablughu bihi.
Contohnya,
yaitu hadits al-A’raj:
عن ابى هريرة
رضى الله عنه يبلغ به: (الناس تبع لقريش) (متفق عليه)
“Warta dari Abu
Hurairah r.a, yang ia rafa’kan kepada Nabi saw: manusia itu menjadi pengikut
orang Quraisy.” (HR. Mutafaq ‘alaih)
2. Tafsir sahabat yang berhubungan dengan asbabun nuzul.
3. Sesuatu yang bersumber dari sahabat yang bukan semata-mata hasil
pendapat ijtihad beliau sendiri.
Contohnya:
كان ابن عمر
و ابن عبّاس يفطران و يقصران اربعة برد(رواه البخاري)
“Konon Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a,
sama-sama berbuka puasa dan mengejar shalat dalam perjalanan sejauh empat barid
(18.000 langkah).” (HR. Bukhari)
D. Kehujjahan hadits marfu
Hadits marfu
yang shahih dan hasan dapat dijadikan hujjah, sedangkan hadits marfu yang
dha’if boleh dijadikan hujjah hanya untuk menerangkan fadha’ilil ‘amal.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Hadits marfu’
adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam, (baik yang menyandarkan itu shahabat, atau tabi’in atau
orang-orang sesudahnya) yang berupa ucapan, perbuatan, taqrir atau sifatnya,
baik secara sharih (jelas) atau secara hukumnya saja.
Adapun hadits marfu’ dibagi menjadi beberapa
macam yaitu:
1. Marfu’ sharih : yang disandarkan secara jelas dan tegas.
a.
Marfu’ Qauly ( perkataan )
b.
Marfu’ Fi’ly ( perbuatan )
c.
Marfu’ Taqriry ( ketetapan )
2. Marfu’ ghairu sharih : yang disandarkan tidak secara jelas dan tegas.
a.
Marfû' Qauly Hukmy
b.
Marfû' Fi’ly Hukmy
c.
Marfû' Taqriry Hukmy
Dalam penyampaianya ada beberapa kalimat yang bisa
menjadi tanda dari Hadits Marfu diantaranya:
- Jika yang berbicara sahabat:
- Kami telah diperintah (امرنا ).
- Kami telah dilarang (نهينا عن).
- Telah diwajibkan atas kami (اوجب علينا).
- Telah diharamkan atas kami (حرم علينا).
- Telah diberi kelonggaran kepada kami (رخص لنا).
- Telah lalu dari sunnah (مضت السنة).
- Menurut sunnah (من السنة).
- Kami berbuat demikian di zaman Nabi (كنا نفعل كذا فى عهد النبي ص).
- Kami berbuat demikian padahal Rasulullah masih hidup(كنا نفعل كذا و النبي)
- Jika yang meriwayatkanya tabi`in:
- Ia merafa`kanya kepada Nabi SAW (يرفعه).
- Ia menyandarkanya kepada Nabi SAW (ينميه).
- Ia meriwayatkanya dari Nabi SAW (يرويه).
- Ia menyampaikanya kepada Nabi SAW (يبلغ به).
- Dengan meriwayatkan sampai Nabi SAW (رواية).
- Jika di akhir sanad ada sebutan (مرفوعا) artinya: keadaanya diMarfu`kan.
DAFTAR PUSTAKA
Rosidin, Faisal Mukarom. 2015.
Menelaah Ilmu Hadits. Ngatiman : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Rahman, Drs. Fatchur. 1985. Iktisar
Mushthalahul Hadits. Cet. ke-4. Bandung : PT Al-Ma’arif.
No comments:
Post a Comment