Friday, February 3, 2017

Hadis marfu'



Makalah Hadits Marfu’

















Disusun Oleh :
             Fitrah nurmansyah 13110273












DAFTAR ISI

Cover                                                                                                  1
Daftar Isi                                                                                             2
BAB I                         Pendahuluan                                                                                       3
BAB II                        Pembahasan                                                                                        4
A.     Pengertian                                                                                     4
B.     Macam-Macam Hadits Marfu’                                                     4
C.     Hadits yang Dianggap Marfu’                                                      7
D.    Kehujjahan Hadits Marfu’                                                            7
BAB III          Penutup                                                                                               8
                        Daftar Pustaka                                                                                                10

                       



BAB I
PENDAHULUAN

Seperti yang kita ketahui, hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi muhammad saw baik dari perkatan, perbuatan, dan ketetapannya. Hadits diklasifikasikan menurut berapa segi, seperti  sanad, matan, dan diterima atau ditolaknya suatu hadits.
Ditinjau dari segi kepada siapa berita itu disandarkan, apakah disandarkan kepada nabi saw, sahabat, ataukah disandarkan kepada yang lainnya, maka hadits itu dapat di bagi menjadi : 
    1.      Hadits marfu’.
2.      Hadits mauquf.
      3.      Hadis maqthu’.

dan makalah ini akan berusaha mengulas tentang hadits marfu’ mulai dari pengertian dan macam – macamnya.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.             PENGERTIAN
Al-marfu’ menurut bahasa : isim maf’ul dari kata rofa’a (mengangkat), dan ia sendiri berarti “yang diangkat”. Dinamakan demikian kerena didasarkan kepada yang memiliki kedudukan tinggi, yaitu Rosulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Hadis marfu’ menurut istilah adalah perkataan, perbuatan, ketetapan, atau sifat yang disandarkan kepada Nabi saw., baik dengan ungkapan, yang jelas dari nabi atau samar, tetapi ketentuan hukumnya dari nabi, baik yang menyandarkannya itu sahabatatau bukan, baik sanadnya bersambung atau terputus. Definisi ini memungkinkan Hadits Muttashil, Mursal, Maunqathi’, Ma’dlal, dan Muallaq menjadi Marfu’. Sedang Hadits Mauquf dan Hadits Maqthu’, tak dapat menjadi Marfu’ bila tak ada qarinah yang memarfu’kannya.
Dengan demikian, dapat diambil ketetapan, bahwa tiap-tiap Hadits Marfu’ tidak selamanya bernilai Shahih atau Hasan, tetapi setiap Hadits Shahih atau Hasan, tentu Marfu’ atau dihukumkan Marfu’.

B.             MACAM-MACAM HADITS MARFU’
1.    Di-marfu’-kan secara tegas (sharih)
Hadist yang di-marfu’-kan kepada Nabi Muhammad saw dengan sharih adalah hadis yang tegas-tegas di katakan oleh seorang sahabat bahwa hadist tersebut di dengar atau di lihat dan di setujui dari Rasulullah saw.,
a.         Marfu’ Qauly
Ialah apa yang disandarkan oleh sahabat kepada Nabi tentang sabdanya, bukan perbuatannya atau iqrarnya, yang dikatakan dengan tegas bahwa nabi bersabda. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan lapazh qauliyah :
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول …… كذا
“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda ……… begini”
Contoh :
 عن ابن عمر رضى الله عنه قال: إنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذّ بسبع و عشرين درجة ( رواه البخاري و مسلم)
" Warta dari Ibn Umar ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: Shalat jama'ah itu lebih afdhal dua puluh tujuh lantai dari pada shalat sendirian . " (HR Bukhari dan Muslim).
b.         Marfu’ Fi’li Haqiqi
Adalah apabila pemberitaan sahabat itu dengan tegas menjelaskan perbuatan Rasulullah saw. Contohnya :
عن عائشة رضى الله عنها انّ رسولالله صلّى الله عليه وسلّم كان يدعوا فى الصلاة, ويقول: (اللّهمّ إنّى أعوذبك من المأثم و المغرم) (رواه البخارى)
“Warta dari ‘Aisyah r.a. bahwa rasulullah saw mendo’a di waktu sembahyang, ujarnya: Ya Tuhan, aku berlindung kepada Mu dari dosa dan hutang” (HR Bukhari).
c.         Marfu’ Taqriri Haqiqi
Adalah tindakan sahabat di hadapan Rasulullah saw. dengan tiada memperoleh reaksi, baik itu reaksi positif atau negatif dari beliau saw. Contoh :
كنّا نصلّ ركعتين بعد غروب الشمس و كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يرانا ولم يأمرنا ولم ينهنا
 “Konon kami bersembahyang dua rakaat setelah matahari tenggelam, Rasulullah saw mengetahui perbuatan kami, namun beliau tidak memerintahkan dan tidak pula mencegah.”
2.    Marfû’ ghairu sharih (marfu' Hukmy)
Maksudnya, hadist sersebut seolah-olah lahirnya dikatakan oleh seorang sahabat )mawquf lafalnya) tetapi hakikatnya di sandarkan kepada rasullalah SAW.
a.    Marfu Qauly Hukmi
Ialah hadits marfu yang tidak tegas penyandaran sahabat terhadap sabda Nabi, melainkan dengan perantaran qarinah yang lain, bahwa apa yang disandarkan sahabat itu berasal dari sabda nabi. Seperti pemberitaan sahabat yang menggunakan kalimat :
أمرنا بكذا ……. نهينا عن كذا
 “Aku diperintah begini…., aku dicegah begitu……”

Contoh :
أمر بلال ان ينتفع الأذن و يوتر الإقامة ( متفق عليه )
“Bilal r.a. diperintah menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah.” (HR Muttafaqun ‘Alaih).
b.      Marfu Fi’li Hukmi
Ialah perbuatan sahabat yang dilakukan dihadapan Rasulullah atau diwaktu Rasulullah masih hidup. Apabila perbuatan sahabat itu tidak disertai penjelasan atau tidak dijumpai suatu qarinah yang menunjukkan perbuatan itu dilaksanakan di zaman Rasulullah, bukan dihukumkan hadits marfu melainkan dihukumkan hadits mauquf. Sebab mungkin adanya persangkaan yang kuat, bahwa tindakan sahabat tersebut diluar pengetahuan Rasulullah saw.
Contohnya :
قال جابر: كنّا نأكل لحوم الخيل على عهدى رسول الله (رواه النسائى)
“Jabir r.a. berkata : Konon kami makan daging Kuda diwaktu Rasulullah saw masih hidup” (HR Nasai).
c.       Marfu Taqririyah Hukmy
Ialah apabila pemberitaan sahabat diikuti dengan kalimat-kalimat sunnatu Abi Qasim, Sunnatu Nabiyyina atau minas Sunnati.
Contohnya, perkataan Amru Ibnu ‘Ash r.a kepada Ummul Walad:
لا تلبسوا علين سنّة نبيّنا (رواه ابو داود)
 “Jangan kau campur-adukkan pada kami sunnah nabi kami.” (HR. Abu Dawud)
Perkataan di atas tidak lain adalah sunnah Nabi Muhammad saw, akan tetapi kalau yang memberitakan dengan kalimat minas sunnati dan yang sejenis dengan itu seorang tabi’in, maka hadits yang demikian itu bukan disebut hadits marfu, tetapi disebut hadits mauquf.


C.     Hadits yang Dianggap Marfu
Selain yang tersebut di atas, terdapat beberapa ketentuan untuk menggolongkan hadits kepada hadits marfu. Antara lain:
1. Apabila dalam memberitakan itu, diikuti dengan kata-kata seperti: Yarfa’ahu, Marfu’an, Riwayatan, Yarwihi, Yannihi, Ya’tsuruhu/yablughu bihi.
Contohnya, yaitu hadits al-A’raj:
عن ابى هريرة رضى الله عنه يبلغ به: (الناس تبع لقريش) (متفق عليه)
“Warta dari Abu Hurairah r.a, yang ia rafa’kan kepada Nabi saw: manusia itu menjadi pengikut orang Quraisy.” (HR. Mutafaq ‘alaih)
2. Tafsir sahabat yang berhubungan dengan asbabun nuzul.
3. Sesuatu yang bersumber dari sahabat yang bukan semata-mata hasil pendapat ijtihad beliau sendiri.
Contohnya:
كان ابن عمر و ابن عبّاس يفطران و يقصران اربعة برد(رواه البخاري)
 “Konon Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a, sama-sama berbuka puasa dan mengejar shalat dalam perjalanan sejauh empat barid (18.000 langkah).” (HR. Bukhari)
D.    Kehujjahan hadits marfu
Hadits marfu yang shahih dan hasan dapat dijadikan hujjah, sedangkan hadits marfu yang dha’if boleh dijadikan hujjah hanya untuk menerangkan fadha’ilil ‘amal.









BAB III
PENUTUP


Kesimpulan:
Hadits marfu’ adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, (baik yang menyandarkan itu shahabat, atau tabi’in atau orang-orang sesudahnya) yang berupa ucapan, perbuatan, taqrir atau sifatnya, baik secara sharih (jelas) atau secara hukumnya saja.
Adapun hadits marfu’ dibagi menjadi beberapa macam yaitu:
1.      Marfu’ sharih : yang disandarkan secara jelas dan tegas.
a.       Marfu’ Qauly ( perkataan )
b.      Marfu’ Fi’ly ( perbuatan )
c.       Marfu’ Taqriry ( ketetapan )
2.      Marfu’ ghairu sharih : yang disandarkan tidak secara jelas dan tegas.
a.       Marfû' Qauly Hukmy
b.      Marfû' Fi’ly Hukmy
c.       Marfû' Taqriry Hukmy

Dalam penyampaianya ada beberapa kalimat yang bisa menjadi tanda dari Hadits Marfu diantaranya:
  1. Jika yang berbicara sahabat:
    1. Kami telah diperintah (امرنا ).
    2. Kami telah dilarang (نهينا عن).
    3. Telah diwajibkan atas kami (اوجب علينا).
    4. Telah diharamkan atas kami (حرم علينا).
    5. Telah diberi kelonggaran kepada kami (رخص لنا).
    6. Telah lalu dari sunnah (مضت السنة).
    7. Menurut sunnah (من السنة).
    8. Kami berbuat demikian di zaman Nabi (كنا نفعل كذا فى عهد النبي ص).
    9. Kami berbuat demikian padahal Rasulullah masih hidup(كنا نفعل كذا و النبي)
  2. Jika yang meriwayatkanya tabi`in:
    1. Ia merafa`kanya kepada Nabi SAW (يرفعه).
    2. Ia menyandarkanya kepada Nabi SAW (ينميه).
    3. Ia meriwayatkanya dari Nabi SAW (يرويه).
    4. Ia menyampaikanya kepada Nabi SAW (يبلغ به).
    5. Dengan meriwayatkan sampai Nabi SAW (رواية).
  3. Jika di akhir sanad ada sebutan (مرفوعا) artinya: keadaanya diMarfu`kan.




DAFTAR PUSTAKA

Rosidin, Faisal Mukarom. 2015. Menelaah Ilmu Hadits. Ngatiman : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Rahman, Drs. Fatchur. 1985. Iktisar Mushthalahul Hadits. Cet. ke-4. Bandung : PT Al-Ma’arif.

No comments:

Post a Comment